Negeri 1001 Suku dan Budaya
Indonesia merupakan daerah tropis yang diapit oleh dua
benua dan dua samudra. Serta memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Negeri yang berjuluk Zamrud
Khatulistiwa ini mempunyai beragam tradisi, budaya, suku serta warisan sejarah yang tak ternilai
harganya, hingga tercetuslah kalimat Bhineka Tunggal Ika yang
artinyaBberbeda-beda Tapi Tetap Satu Jua.
Meskipun wilayah
Indonesia terdiri dari gugusan pulau-pulau, namun dapat dipastikan bahwa hampir
semua daerah di Indonesia memiliki suku dan kebudayaan tersendiri. Seperti kebudayaan suku Aceh yang terdapat di provinsi
Nangro Aceh Darussalam, kebudayaan suku Minangkabau yang sebagian besar berada
di provinsi Sumatera Barat, kebudayaan suku Nias yang terdapat di pulau Nias,
kebudayaan suku Mentawai yang dimiliki oleh masyarakat di kepulauan Mentawai (Pulau Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan),
kebudayaan suku Batak yang berada di Sumatera Utara, dan kebudayaan di
Kalimantan seperti suku Dayak, suku Banjar dan suku Kutai.
Setiap suku di
Indonesia memiliki sistem, tradisi dan adatnya masing-masing, seperti
sistem kemasyarakatan dan kekerabatan. Sistem
kemasyarakatan adalah pengelompokan orang-orang dalam suatu masyarakat dan
hubungan antara individu, baik dalam
kelompok yang sama maupun dalam kelompok yang berbeda. Sistem kemasyarakatan
memiliki beberapa kriteria, contohnya kriteria
berdasarkan tempat. Dalam masyarakat Batak ada yang disebut Batak Toba karena
masyarakatnya mendiami daerah Toba, Batak Mandailing karena masyarakatnya
mendiami daerah Mandailing. Begitu pula dengan Batak Angkola, Batak Simalungun,
Batak Karo dan Batak Pakpak. Berdasarkan keadaan materi, ada yang kaya dan ada yang miskin. Berdasarkan profesi, ada yang menjadi
pengusaha, guru, petani, dan lain-lain. Dan ada juga sistem kemasyarakatan yang
berdasarkan pada kasta seperti di Nias, dimana tingkatan kasta yang tertinggi
adalah “Balugu”.
Sementara yang
dimaksud dengan sistem kekerabatan adalah suatu kesatuan hukum yang para anggotanya
terikat sebagai satu kesatuan karena berasal dari moyang yang sama. Sistem
kekerabatan yang ada di masyarakat hukum adat di Indonesia dibagi menjadi :
1. Sistem
Kekerabatan Unilateral
Sistem kekerabatan
unilateral adalah sistem kekerabatan yang anggota-anggotanya menarik garis
keturunan hanya dari satu pihak saja yakni pihak ayah atau pihak ibu.
Sistem kekerabatan
unilateral ini dapat dibagi dua, yakni :
a. Sistem
Kekerabatan Matrilineal, yaitu sistem kekerabatan yang anggota-anggotanya
menarik garis keturunan hanya dari pihak wanita atau ibu saja terus menerus ke
atas karena ada kepercayaan bahwa mereka semua berasal dari seorang ibu asal.
Contoh suku atau masyarakat yang mengandung sistem ini adalah masyarakat
Minangkabau.
b. Sistem
Kekerabatan Patrilineal, yaitu sistem kekerabatan yang anggota-anggotanya
menarik garis keturunan hanya dari pihak laki-laki atau ayah saja, terus menerus ke atas karena ada kepercayaan bahwa mereka
semua berasal dari seorang ayah asal. Contoh suku atau masyarakat yang
mengandung sistem ini adalah masyarakat Batak (Tapanuli), Nias, dan Mentawai.
2. Sistem Kekerabatan Bilateral
atau Parental
Sistem kekerabatan
bilateral adalah sistem kekerabatan yang anggota-anggotanya menarik garis
keturunan baik melalui garis ayah maupun ibu. Contohnya adalah masyarakat Aceh, suku Dayak dan Banjar di Kalimantan.
Agama berasal dari
bahasa Sansekerta yaitu ‘a’ yang berarti tidak dan ‘gama’ yang berarti kacau. Jadi, agama
artinya aturan, atau syari’at yang diperuntukan manusia agar hidupnya terarah dan tidak kacau. Sebelum masuknya
agama-agama seperti Islam, Hindu, Budha, dan Kristen, suku-suku di Indonesia
sudah menganut sistem kepercayaan animisme dan dinamisme. Namun dengan
seiringnya perkembangan zaman, agama-agama
tersebut kini dianut pula oleh berbagai suku di Indonesia. Seperti agama Islam
yang dianut oleh mayoritas masyarakat Aceh, Minangkabau, Batak Mandailing dan
Batak Angkola. Agama Kristen (Katolik dan Protestan) yang dianut oleh mayoritas
Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, dan Nias. Begitu pula dengan masyarakat
suku Dayak dan Banjar di Kalimantan yang sebagian sudah beragama Islam,
Kristen, Katolik. Namun ada juga yang
memeluk agama Kaharingan atau pribumi, karena masyarakat
Dayak masih percaya pada roh-roh. Hal ini hampir sama dengan masyarakat suku
Mentawai yang masih memeluk agama tradisional Mentawai yang disebut Arat
Sabulungan, yakni seluruh benda hidup dan segala yang ada di alam mempunyai roh
atau jiwa (simagre). Roh dapat memisahkan dari tubuh dan bergentayangan dengan
bebas. Jika keharmonisan antara roh dan tubuhnya tidak dipelihara, maka roh
akan pergi dan dapat menyebabkan penyakit. Konsep kepercayaan ini berlaku dalam
kehidupan masyarakat sehari-hari. Kegiatan seharian
yang tidak sesuai dengan adat dan kepercayaan, maka bisa mengganggu
keseimbangan dan keharmonisan roh di alam.
Untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya, manusia dituntut untuk bekerja, tak peduli dia dari
golongan atau suku manapun. Hampir
kebanyakan, mata pencaharian masyarakat Indonesia
adalah bertani seperti di Aceh, dan Nias. Berburu atau berladang di Mentawai
dan Kalimantan, serta Berwirausaha/berdagang di Minangkabau, dan Batak.
Masyarakat Aceh sering menggunakan bahasa Gayo. Bahasa minang digunakan
masyarakat Minangkabau. Nias, Mentawai, Batak
dan Kalimantan adalah penutur bahasa Austronesia. Tapi Kalimantan dari rumpun
Malayo-Polynesia, diantaranya adalah Bahasa Tidung,Bahasa Banjar, Bahasa Berau dan Bahasa Kutai. Bahasa lainnya
adalah Bahasa Lundayeh.
Setiap suku daerah pasti memiliki
adat, tradisi dan budaya yang berbeda. Hal-hal yang berbau tradisi diwariskan
secara turun-temurun seperti tarian
tradisional, lagu daerah, rumah adat, pakaian adat, peralatan musik tradisional
dan lainnya. Hal ini berlaku
pula untuk masyarakat suku Nias, Minangkabau, Aceh, Batak, Mentawai dan
suku-suku yang ada di Kalimantan seperti suku Dayak dan Banjar.
Adapun berbagai Kesenian dari :
a. Aceh
Dalam
seni sastra, provinsi ini
memiliki 80 cerita rakyat yang terdapat dalam Bahasa Aceh, Bahasa Gayo, Aneuk
Jame, Tamiang dan Semelue. Bentuk sastra lainnya adalah puisi yang dikenal
dengan hikayat, dengan salah satu hikayat yang terkenal adalah Hikayat Prang Sabi (Perang Sabil).
Seni tari Aceh juga
mempunyai keistimewaan dan keunikan tersendiri, dengan ciri-ciri antara lain
pada mulanya hanya dilakukan dalam upacara-upacara tertentu yang bersifat
ritual bukan tontonan, kombinasinya serasi antara tari, musik dan sastra. Tari-tarian yang ada antara lain Seudati, Saman, Rampak, Rapai, dan Rapai Geleng. Tarian terakhir ini paling terkenal dan merupakan
perpaduan antara tari Rapai dan Tari Saman.
Dalam bidang seni
rupa, Rumoh
Aceh merupakan karya
arsitektur yang dibakukan sesuai
dengan tuntutan budaya waktu itu. Karya seni rupa lain adalah seni ukir yang
berciri kaligrafi. Senjata khas Aceh adalah Rencong. Pada dasarnya perpaduan kebudayaan antara mengolah besi
(metalurgi) dengan seni penempaan dan bentuk. Jenis rencong yang paling
terkenal adalah siwah.
Suku bangsa Aceh
menyenangi hiasan manik-manik seperti kipas, tudung saji, hiasan baju dan
sebagainya. Kemudian seni ukir dengan motif dapat dilihat pada hiasan-hiasan
yang terdapat pada tikar, kopiah, pakaian adat, dan sebagainya.
b. Minangkabau adalah
:
Tari Piring, Tari Payung, Tari Pasambahan, dan Tari Indang; Rumah Gadang (Rumah Adat), Pantun dan pepatah-petitih, Pencak Silat; Saluang, talempong, rabab, serta bansi (Alat musik tradisional); Cindua Mato, Malin Kundang, Anggun Nan Tongga (Cerita
tradisional); bentuk
mesjid (seni arsitektur).
Pada abad ke-20, sastrawan Minangkabau merupakan tokoh utama
dalam pembentukan bahasa dan sastra Indonesia. Berbagai karya
yang mereka buat seperti novel, roman, dan
puisi. Membuat sastra Indonesia mulai tumbuh dan berkembang. Sehingga novel-novel yang berlatar belakang budaya Minangkabau dapat beredar luas di seluruh Indonesia dan Malaysia. Bahkan dapat menjadi bahan pengajaran penting bagi para pelajar. Seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Merantau ke Deli
dan Di Bawah Lindungan Ka'bah karya Hamka, Salah Asuhan karya Abdul Muis, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, dan Robohnya Surau Kami karya Ali Akbar Navis. Budaya literasi Minangkabau juga melahirkan tokoh penyair
seperti Chairil Anwar, Taufiq Ismail dan tokoh sastra lainnya Sutan Takdir Alisjahbana.
c. Nias
Lompat batu, Tari perang, Maena, Tari Moyo, Tari Mogaele, Sapaan Yaahowu, Fame ono niahalo
(pernikahan), Omohada (rumah adat), Fame'e toi nono nihalo (pemberian nama
bagi perempuan yang sudah menikah). Pakaian adat suku Nias dinamakan Baru Oholu untuk
pakaian laki-laki dan Õröba Si’öli untuk pakaian perempuan. Pakaian adat
tersebut biasanya berwarna emas atau kuning yang dipadukan dengan warna lain
seperti hitam, merah, dan putih.
d. Mentawai
Rumah
adat yang besar atau Uma. Uma merupakan bangunan yang besar dan megah. Panjang
Uma mencapai hingga 25 meter dan lebarnya berkisar 10 meter. Kerangka Uma
terbuat dari kayu bakau, lantainya dari batang nibung, dinding rumahnya dari
kulit kayu, sedangkan atapnya dari daun sagu. Fungsi dari Uma sendiri adalah
sebagai balai pertemuan umum untuk upacara dan pesta adat bagi
anggota-anggotanya yang semuanya masih terikat hubungan kekerabatan menurut
adat.
e. Batak
Seni Tari yaitu
Tari Tor-tor (bersifat magis); Tari serampang dua belas (bersifat hiburan).
Alat Musik tradisional : Gong; Saga-saga. Hasil kerajinan tenun dari suku batak
adalah kain ulos. Kain ini selalu ditampilkan dalam upacara perkawinan,
mendirikan rumah, upacara kematian, penyerahan harta warisan, menyambut tamu
yang dihormati dan upacara menari Tor-tor. Kain adat sesuai dengan sistem
keyakinan yang diwariskan nenek moyang.
f. Kalimantan
Lagu Daerah : Burung Enggang
(bahasa Kutai), Sabar'ai-sabar'ai (Bahasa Banjar), Anjat Manik (Bahasa Berau Benua),Bebilin
(Bahasa Tidung), Ayen Sae (Bahasa Dayak), Sungai Kandilo (Bahasa Pasir),
Indung-Indung (Bahasa Melayu Berau), Merutuh(Bahasa
Tonyooi-Benuaq) dan masih banyak lainnya.
Seni Suara : Bedeguuq
(Dayak Benuaq),Berijooq (Dayak
Benuaq), Ninga (Dayak
Benuaq), Enluei (Dayak
Wehea). Seni Berpantun : Perentangin (Dayak Benuaq), Ngelengot (Dayak Benuaq), Ngakey (Dayak
Benuaq), Ngeloak (Dayak
Benuaq). Musik : Tingkilan (suku Kutai), Musik Sempek/Kejien (suku Dayak
Wehea). Tarian : Tarian Bedewa dari
suku Tidung (Kabupaten Nunukan), Tarian Iluk Bebalon dari suku Tidung (Kota Tarakan), Tarian Besyitan
dari suku Tidung (Kabupaten Malinau), Tarian Kedandiu dari suku Tidung (Kabupaten
Bulungan), Tarian Gantar dari
Suku Dayak Benuaq, Tarian Ngeleway
dari Suku Dayak Benuaq, Tarian Ngerangkaw
dari Suku Dayak Benuaq, Tarian Kencet dari
Suku Dayak Kenyah, Tarian Datun dari
Suku Dayak Kenyah, Tarian Hudoq dari
Suku Dayak Wehea, Tarian Kejien dari
Suku Dayak Wehea, Tarian Jepin Ujang
Bentawol Suku Tidung (Kota Tarakan).
Upacara Adat Kematian
: Kwangkey/Kuangkay (suku Dayak Benuaq), Kenyeuw (suku Dayak
Benuaq), Parepm Api/Tooq (suku Dayak
Benuaq). Senjata Tradisional : Mandau - Manaau, Gayang, Keris Buritkang, Sumpit - Potaatn, Perisai - Keleubet, Tombak – Belokokng.
Dari uraian di atas kita dapat mengetahui begitu beragam suku budaya di
Indonesia, padahal itu tidak dari semua daerah. Kita bisa bayangkan apabila
semua suku budaya yang terdapat di Indonesia ini dibukukan. Mungkin akan begitu
banyak yang tertuang di dalamnya.
Semua hal yang telah di bahas diatas
mungkin belum sepenuhnya tertuang secara lengkap. Namun, sedikitnya kita bisa
mengetahui beragam kebudayaan di Negara tercinta kita ini. Dan kita harus bangga menjadi warga Negara Indonesia, karena kaya akan
budaya yang ada. Begitupun dengan keadaan alamnya yang berlimpah.